Sahabat Papua Tak Kenal CAT-BKN, Maka Tak Sayang

Catatan Kecil Yongki Raweyai dari Papua

Papua-Humas BKN, Beda daerah-beda tempat, beda juga cerita tentang Tes Kompetensi Dasar (TKD) dengan metode Computer Assissted Test (CAT)-BKN. Nah, kalau para sahabat di Papua lain lagi ceritanya. Usut punya usut ternyata ada salah pemahaman tentang CAT-BKN selama ini, sehingga mereka menolak untuk TKD dengan menggunakan CAT-BKN. Setidaknya itulah yang disampaikan oleh ‘Pace’ Yongki Raweyai Pahala, sahabat kami dari Kanreg IX BKN Jayapura yang juga Anggota Tim IT Support CAT-BKN, Kamis (23/10/2014).

‘Pace’ Yongki Raweyai Pahala, sahabat BKN Jayapura yang juga Anggota Tim IT Support CAT-BKN.

Yongki Raweyai menuturkan bahwa beberapa daerah di Papua mengira CAT-BKN itu tesnya online seperti saat pendaftaran. Sehingga menurut Yongki Raweyai pejabat dan masyarakat di sana memperhitungkan kembali proses TKD dengan CAT-BKN. Hal itu wajar karena dilatar belakangi daerah mereka yang belum seluruhnya memiliki jaringan internet. “Mungkin karena bahasa yang digunakan ketika sosialisasi (mohon maaf) terlalu bahasa Indonesia yang baku sehingga ada salah pemahaman,” beber Yongki Raweyai. Namun menurut Yongki Raweyai setelah dimulai dengan melakukan pendekatan dengan bahasa sehari-hari orang Papua, mereka mulai memahami apa itu CAT-BKN. Juga tidak lupa Yongki Raweyai dan Tim menjelaskan manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan seleksi kepegawaian dengan tes CAT-BKN itu.

Alhasil sebuah fakta terungkap bahwa usai proses TKD dengan CAT-BKN ada peserta yang setelah melihat hasil tesnya mulai berlapang dada dan berkata: “Saya sangat puas dengan hasil seperti ini. Karena saya benar-benar tahu bahwa saya tidak lulus karena memang saya belum dapat lulus dan bukan karena adanya permainan panitia penerimaan,” cerita Yongki Raweyai. Kenyataan lain , Yongki Raweyai menyampaikan bahwa pada tes Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN) yang lalu dan ternyata banyak putra asli Papua yang nilainya memenuhi passing grade.

Hal itulah menurut Yongky Raweyai yang selama ini ditakutkan para pembesar di Papua bahwa anak-anak Papua tidak bisa, tidaklah sepenuhnya benar. Semoga semua berjalan lancar tanpa ada kepentingan para pembesar saja dan jangan pernah lagi ada underestimated kemampuan putra sendiri. Subali/Yongki Raweyai

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *